Drabble : Pelukis Kelinci

Mentoring teori kepenulisan, Asistensi Sinopsis lengkap, dan Mentoring Menulis Privat 2020

Untuk info langsung WHATSAPP 0812-12-707-424 atau klik DI SINI


Drabble : Pelukis Kelinci
Dapatkan Informasi Postingan TerbaruFollow Tips Menulis Novel Gratis on WordPress.com

Drabble Curhat

Edia terbeliak bahagia. Untuk yang pertama, dia mendapatkan kemenangan lomba melukis kelinci di desa sebelah. Lima belas kali perlombaan dan empat belas kali kekalahan, akhirnya ia mendapatkan sebuah piala penghargaan.

Ia tak pernah berniat mengikuti lomba mural di desanya. Karena tujuannya di desa hanyalah bersenang-senang. Dia lebih suka menggambar kelinci dan itu tak pernah ada di desanya.

Dengan bangga ia membawa piala yang didapatnya susah payah. Ia langsung berlari ke arah teman-temannya yang tengah menggambar mural di dinding.

“Gambar kelinciku menang! Akhirnya! Sekarang aku paham caranya supaya bisa menang.” Wajahnya terlihat berseri-seri. “Aku mau membagikan tips menggambar kelinci di desa kita! Siapa tahu ada yang mau ikut menggambar kelinci juga. Semoga nanti ada gambar kelinci menghias dinding desa kita.”

Salah seorang temannya menoleh malas. “Jangan atur-atur, deh! Siapa juga mau gambar kelinci? Lomba di desa kita juga temanya mural.” Dia mendengkus. “Semua orang di sini gambar mural, bukan kelinci!”

BACA JUGA :  Fanfic : The Third Master's Sword

Temannya yang lain menimpali. “Kenapa? Sombong mentang-mentang punya piala? Itu si Zee aja diem meski menang lomba mural.”

Tawa yang lain meledak.

“Udah deh, kalau nggak suka mural, pergi aja! Lupakan kami! Enak aja nyuruh kami gambar kelinci!”

Edia terdiam.

Dia menelaah kembali kata-katanya. Dirinya hanya ingin berbagi ilmu yang ia tahu. Sedikit berharap ada warna baru di desanya. Ia berharap ada teman yang juga menggambar kelinci bersamanya. Bukan agar ia bisa menang lomba mural yang jelas bukan incarannya sejak awal.

Edia merenung.

Apa ada yang salah dengan berbagi? Apa ada yang salah dengan harapan? Apa ada yang salah dengan kebanggaan setelah perjuangan panjang?

Bulu kuduk Edia meremang.

Mungkin di desa ini memang tak boleh berharap, tak boleh menunjukkan keberhasilan.

Edia menunduk.

Ya … ia tak perlu desa yang tak sudi mendengar. Pun harapannya tak dikabulkan, ia hanya butuh didengar. Karena diabaikan itu menorehkan luka.

Ia tahu, mungkin pelukis kelinci tak akan pernah selamanya bisa dimengerti di sini. Ia pun memutuskan pergi. Membawa sedikit ilmu yang bisa ia dibagi, ke desa baru yang sudi mendengar harap dan impiannya lagi.

BACA JUGA :  Drabble : Sayonara

馃敺馃敺馃敺馃敺馃敺

060618

Drabble : Pelukis Kelinci

Masih ada hubungan dengan kisah yang sebelumnya.

Drabble Shirei yang lain :

 

Leave a Comment

error: Maaf, tidak diperkenankan klik kanan. Tautan akan terbuka langsung ke halaman baru.