Drabble : Taman Bunga

Asistensi Simopsis lengkap dan Mentoring Menulis Privat APRIL / MEI 2020

Untuk info langsung WHATSAPP 0812-12-707-424 atau klik DI SINI


Drabble : taman Bunga
Dapatkan Informasi Postingan TerbaruFollow Tips Menulis Novel Gratis on WordPress.com

Drabble Simbolis

Airi melihat petanya sekali lagi. Ia memastikan bahwa Desa Bunga yang disarankan teman-temannya benar ada di hadapannya.

Dengan riang gembira Airi membawa peralatan berkebunnya. Ia selalu berharap menemukan desa yang setiap warga di dalamnya saling berbagi warna.

Dengan riang, ia menanam bunga melati, kesukaannya. Menyirami dan memberi pupuk. Jika ada daun yang layu, ia segera memotongnya agar bunga terlihat segar.

Setiap hari, kepala desa selalu memilih beberapa bunga terbaik dan dipasang di atas mimbar. Bunga-bunga yang terpilih sangat unik dan menarik. Airi sangat senang memandangnya.

Hanya saja, kadang ia agak terganggu. Beberapa bunga terpilih ternyata memiliki daun meranggas, atau bahkan ulat yang masih menggeliat.

Kemudian kepala desa memberi pengumuman cara agar bisa terpilih dan mempersilakan warga untuk mengajukan bunga masing-masing. Kepala desa juga mempersilakan jika ada usulan tentang persyaratan yang ditetapkan.

Airi pun mengajukan usul. Ia berharap agar yang terpilih sudi membersihkan bunganya dari daun kering dan ulat agar terlihat rapi. Lagipula, keindahan bunga yang dipamerkan akan lebih terlihat.

BACA JUGA :  Monokrom - 27 - Akhir perjalanan

Tiba-tiba dengungan ketidaksukaan terdengar. Bahkan kepala desa yang tadinya mempersilakan mengajukan usul pun menjadi berang. Ia merasa Airi tidak bersyukur sudah diizinkan tinggal. Lagipula tidak sopan membuat kepala desa membersihkan daun dan ulat!

Belum lagi banyak warga yang marah karena Airi dianggap terlalu mengatur. Mereka berteriak bahwa Airi iri karena tidak pernah terpilih, sombong, juga doyan pamer.

Airi masih berusaha berpikir positif. Mereka hanya belum mengerti maksud perkataannya. Lagipula, bukankah kepala desa yang mempersilakannya bicara?

Sekali lagi ia berusaha menjelaskan bahwa ia hanya berharap bunga warga terlihat lebih rapi. Bukan iri apalagi menyuruh kepala desa membersihkan bunga.

Namun, lagi-lagi Airi hanya mendapat cercaan. Warga menuduh Airi hanya ingin membuat desa bunga dipenuhi melati. Mereka menyebarkan desas-desus bahwa Airi orang picik yang mendewakan bunga melati, padahal di sini ada aneka bunga dan warna.

Airi terdiam.

Mungkin memang ia salah tempat. Mungkin memang tak seharusnya ia bicara.

Desa Bunga tak ingin berkembang.

BACA JUGA :  Obsessive Loves - Epilog

Mungkin memang mereka mencintai ulat yang akan menghabisi daun dan menghambat pertumbuhan bunga. Mungkin mereka menyukai daun kering yang terlihat menyembul di antara yang segar.

Airi tak mengerti.

Ia hanya berharap desa bunga menjadi lebih baik dengan keanekaragaman isinya. Harapan pun tak selamanya menjadi kenyataan. Airi sadar akan hal itu.

Namun, perlakuan yang diterimanya sungguh tak bisa dipahami. Ketika pinta sederhana, seolah menjadi petaka luar biasa.

Airi tak akan memaksa. Ia akan mencari desa bunga yang lain.

Sebuah desa yang mau mendengarkan sebelum bicara. Sebuah desa yang tidak menghakimi padahal belum mengerti substansi cerita.

Sebuah desa yang mau terus berkembang dan belajar, bukan sekadar desa yang hanya haus akan puja-puji semu belaka.

070618

Drabble : Taman Bunga

Aku ga nemu kata yang dimaksud Ruru buat kurevisi. Kelamaan ngendap di note. lol

Cases close. Sekarang bikin blog aja deh

Drabble Shirei yang lain :

Leave a Comment

error: Maaf, tidak diperkenankan klik kanan. Tautan akan terbuka langsung ke halaman baru.