Pemenang Lomba Novel Sudah Diatur?

Mentoring teori kepenulisan, Asistensi Sinopsis lengkap, dan Mentoring Menulis Privat 2020

Untuk info langsung WHATSAPP 0812-12-707-424 atau klik DI SINI


Pemenang Lomba Novel Sudah Diatur?
Dapatkan Informasi Postingan TerbaruFollow Tips Menulis Novel Gratis on WordPress.com

Pernah ikut lomba novel? Merasa kalau lomba novel kok pemenangnya ‘itu-itu’ saja?

Pasti yang menang tidak jauh-jauh dari mereka yang sudah sering menjalin kerja sama dengan penerbit itu, mereka yang bukunya sudah berjajar di toko buku besar, atau mereka yang view di Wattpad-nya sudah berjuta-juta.

Merasa kecewa? Sakit hati?

Lalu muncul pertanyaan, apakah

Pemenang Lomba Novel Sudah Diatur?

Sebenarnya, yang harus kita telaah adalah kenapa selalu mereka yang berada di puncak kesuksesan? Sementara kita yang pas-pasan mungkin terseok, tidak disadari keberadaan, dan tetap lenyap dalam lautan peserta tanpa bisa meraih puncak.

Mengapa seolah tidak ada kesempatan bagi para pemula?

Coba kita putar kacamata kita sebagai sebuah kantor penerbitan. Sebuah bidang usaha yang membutuhkan modal dan memerlukan laba agar tetap bisa berjalan. Karena, penerbit bukan badan amal yang menerbitkan sebuah buku atas dasar satu pertimbangan belaka.

Kalau begitu, untuk menerbitkan sekian banyak buku para pemenang, apa yang penerbit pikirkan?

Banyak hal tentunya, tapi yang paling utama tentu adalah keuntungan agar mereka tetap bisa berjalan.

Jadi, wajar saja yang kira-kira menguntungkan pada saat diterbitkan, akan mendapat prioritas lebih jika dilihat dari segi ekonomi.

Lho? Artinya apakah Pemenang Lomba Novel Sudah Diatur?

Wah, Shirei nggak bisa jawab. Shirei nggak pernah kerja di penerbitan. [plak]

Cuma, kalau kita bahas perlahan, apa sih kriteria pemenang lomba yang kita harapkan?

  1. Ceritanya Sesuai Tema yang Diajukan Penerbit
  2. Ceritanya Menarik
  3. Karakternya Hidup dan Tidak Membosankan
  4. Bisa membuat pembaca penasaran hingga halaman terakhir
  5. Kisahnya sangat berkaitan dengan kehidupan banyak pembaca
  6. Minim salah ketik, kesalahan PUEBI, dan kalimat tidak efektif
  7. Pemenang memenuhi semua persyaratan lomba
BACA JUGA :  Penulisan yang benar Idul adha atau iduladha?

Pertanyaan kemudian, apa cerita kita memenuhi kriteria di atas?

Jika merasa, YA, berarti memang kita layak untuk bersaing dengan para pemenang.

Namun, kenapa karya kita nggak juga menang?

Balik lagi ke kacamata penerbit. Kriteria pemenang TAMBAHAN yang MUNGKIN dipikirkan oleh penerbit selain syarat dasar [bagus, menarik, dll]

  1. Diperkirakan bisa lebih diterima pasar
  2. Punya fanbase loyal sehingga minimal ada jaminan dari segi penjualan
  3. Sudah dikenal oleh banyak orang

Karena balik lagi bahwa penerbit butuh balik modal dan menghasilkan laba. Jadi nggak mungkin memilih atas dasar kasihan karena belum pernah menang.

Lho? Bener dong artinya nggak akan ada harapan buat pemula?

Nggak juga. 

Kalau karya kita beneran dirasa bagus dan melebihi ekspektasi penerbit, maka kita bisa saja menang. Dengan catatan cerita kita menarik perhatian, sangat menggugah, dan dibaca.

Lho? Berarti nggak yakin kalau penerbit baca cerita kita?

Setiap penerbit punya cara masing-masing untuk menilai, dan ini ranah privasi mereka. Hal yang harus kita hormati.

Balik lagi, ke pertanyaan

Pemenang Lomba Novel Sudah Diatur?

Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Shirei nggak tahu pasti.

Namun, sebagai peserta lomba, kita bisa memilih mana lomba yang mau kita ikuti dari rekam jejak penerbit tersebut saat lomba-lomba sebelumnya.

BACA JUGA :  Jenis Kata Hubung atau Konjungsi dalam PUEBI

Mungkin benar jika kesempatan buat yang nggak punya nama sangat kecil untuk menang. Namun, harap diingat bahwa mereka yang kini duduk di atas telah menulis entah berapa banyak novel.

Mereka unggul dalam segi pengalaman menulis, pengalaman ketemu editor, pengalaman dengan penerbit sehingga tahu apa yang diinginkan penerbit. Apalagi jika sudah pernah terbit di penerbit itu. Maka bisa menjadi nilai plus karena editor sudah tahu ‘kemampuan’ si penulis.

Lalu buat apa ngadain lomba? Langsung aja lamar mereka?

Hmm … lomba bisa dibilang mencari bibit baru, tapi bisa juga buat ajang promosi karya pemenang. Secara sederhana, kontes novel akan membuat SEMUA PESERTA akan kepo seperti apa, sih, karya jawara? Mereka akan memperbincangkannya di sosial media. Bukankah ini cara promosi yang efektif?

Yah … jadi males kalau begitu. Toh, yang menang selalu yang pengalaman.

Itu, sih, kembali ke tujuan awal, UNTUK APA KITA IKUT LOMBA?

Untuk menjadi juara?

Untuk ngemaso?

Biar ada temen ngebut?

Shirei pribadi ikut lomba, kalau banyak temen yang ikut. Shirei nggak narget menang. Shirei targetnya KELAR NOVELNYA. Ada yang mecut karena ada tenggatnya.

Jika memang yang diharapkan adalah menang lomba, silakan lihat kembali rekam jejak penerbit tersebut. Apakah dia pernah memenangkan karya penulis yang belum memiliki buku terbit? Apakah pernah memenangkan karya penulis yang tidak punya banyak follower? Meski ini bukan tolok ukur pasti, setidaknya, bisa dilihat dari sini.

BACA JUGA :  Beda Dia dan Ia

Jika jawabannya iya, silakan ikut. Jika tidak, silakan pikir-pikir lagi kalau memang berekspetasi bagus di sana

Namun, nggak dipungkiri, ada sedikit kekecewaan kala menyadari beberapa panitia lomba tampak abai terhadap peraturan. Nggak cuma sekali Shirei menyaksikan, pemenang lomba tidak memenuhi syarat teknis panitia, tapi tetap menang.

Duluuuu … Shirei ikut sebuah lomba novel. Syarat wajibnya adalah update seminggu sekali dan minimal 2x update blog tentang proses menulisnya. Namun, juaranya tidak pernah update blog sama sekali. Shirei Syok. Ahahaha

Kalau begitu, kenapa harus ada peraturan sejak awal? Bukankah lebih baik ditiadakan saja?

Namun, ngerti sih, acara update, tagging, itu untuk naikin trafik dan kesadaran banyak orang terhadap keberadaan lomba itu. Semakin banyak orang tahu, semakin besar acaranya. Peserta bantu panitia promosi lah istilahnya sekaligus promosikan karyanya sendiri.

Hanya saja, biarkan peraturan tetap peraturan. Sebagus apa pun karya pemenang, ia harus memenuhi syarat teknis.

Jika gagal, maka jangan dipilih.

Karena, itu akan membuat peserta lain bertanya-tanya, “Kenapa kok bisa menang padahal nggak ngikutin aturan lomba? Apa jangan-jangan pemenang sudah ditentukan dari awal?”

Kalau menurut teman-teman, bagaimana soal lomba novel ini? Masih berminatkah untuk mengikuti lomba novel, ataukah cukup sebagai pengamat dari luar arena?

29 thoughts on “Pemenang Lomba Novel Sudah Diatur?”

  1. Aku sih kayaknya nggak kapok ikut lomba karena ya itu buat pecutan hehe. Meski kecewa jelas ada. Tapi ya, di sini kita udah dikasih pelajaran. Iya itu tadi, belajar memilih mana lomba yang sekiranya sreg dan sesuai bukan dari besar kecilnya aja.

    Soal pasar, hmm, itu nggak bisa disangkal lagi ya? Bahkan selain lomba anu yang katanya nganu―/woi―itu. Ada lomba yang saat pemenangnya dari kalangan pemula real pemula. Hak untuk terbit mereka ditunda dengan alasan harus nyari ‘pasar’ dulu sebelum dia lahir(?)

    Reply
    • Kdg udah setahun nunggu “momen yg pas” untuk terbit pun ga terbit juga krn nunggu populer dl. Sedih ya

      Reply
        • Ahahaha… iya. Temenku sampai ada yg tarik naskah. Aku pun begitu. Udah lewat dari janji terbit. Jadi kutarik saja. siapa tahu ada jodoh di tempat lain.

          Reply
  2. Waduh, yang masih anget ini dari kemarin-kemarin. Saya sih nggak termasuk ke daftar peserta yang ikut di lomba “itu”, tapi melihat betapa banyaknya yang kecewa terhadap lomba ini ikutan sedih sih, kecewa juga. Karena kalau saya memposisikan diri sebagai teman-teman sudah pasti kecewa banget, kayak merasa sia-sia gitu udah meluangkan waktu, tenaga, pikiran buat lomba itu, tapi ketika DL juga belum habis eh pengumuman udah keluar. Terlepas yang menang memang itu-itu aja, wajar.. seperti kata Mbak Shi, penerbit juga butuh sesuatu yang menjual, yang menguntungkan perusahaan. Tapi, yah peraturan tetap peraturan. Intinya, saya sebagai penonton cukup kecewa sih. Semoga aja di lomba-lomba selanjutnya bakal lebih baik lagi dari ini. Dan untuk peserta yang merasa dikecewakan tetap semangat menulis! Yang penting novel kelar, menang nggak menang itu mah bonus, hehe

    Reply
  3. At least, ya kadang aku juga mikir, di lomba blog juga begini juga, kok yang menang emak-emak mulu gitu kak, emang tujuan ada kompetisi begitu biar makin booming, namanya juga perusahaan pasti nyari laba hehe

    Reply
    • Oh, di dunia blog juga? Cm lkomba blogger biasanya nyari linkback sih ya. jadi dia modal promo, dpt banyak link back. Soale biasanya syaratnya kan kudu ngelink dg kata kunci tertentu.

      Reply
  4. Secara pribadi aku jarang ikut lomba. Jangankan lomba novel, lomba cerpen aja jarang 😆 hehe.
    Tapi bicara soal kriteria pemenang memang selalu hot ya, apalagi jika kita ikutan lomba tersebut, terus jadi pihak yang kalah. Semacam ada rasa kepo maksimal.
    Namun semua kembalikan lagi ke niat awal, apa tujuan ikut lomba? Karena sejatinya Anda adalah pemenang yang berhasil mengalahkan diri sendiri.

    Reply
    • Yes bener banget. Maakanya biasanya kan panitia mengumumkan kriteria tuh. Kalau ga ada, ya artinya kudu tunduk sama keputusan panitia.

      Btw maaf kalau di WP, komen pertama harus moderation dulu. Kalau sekali dah diaprup, besoknya bs langsung masuk krn IP-nya dah direkam ^^

      Reply
  5. Untuk lomba nulis novel ataupun cerpen, aku memang belum pernah ikutan karena emang baru mulai comeback (?) nulis lagi setelah vakum bertahun-tahun lamanya. xD

    Namun, kalau suatu hari nanti aku ngerasa udah sanggup buat ikutan lomba nulis, pasti aku bakal ikutan. Masalah menang kalah, pemenangnya yg udah terkenal, atau bahkan lombanya settingan karena sebenarnya pemenang udah ‘ada’ dari sejak lomba baru dimulai, aku mah bodo amat, lol 😂

    Selama settingannya kece, pemenang yg udh ditetapkan benar2 ngikutin ketentuan lomba yg udh ditetapkan panitia, sehingga ‘penonton’ & peserta lomba yg tersingkir gak nyadar klo lomba itu hanya settingan untuk ajang promosi, aku pribadi gak masalah sih tetap ikutan & jd peserta tim hore yg partisipasi promoin lombanya karena ikutan tp kalah. Karena buatku, lomba bukan sekedar menang kalah aja, tapi banyak hal yg bisa didapat dari sekedar gelar juara. Pengalaman, teman, melatih disiplin, memacu semangat dan motivasi diri, melatih berjiwa besar menerima kekalahan, melatih menahan diri dari sombong klo menang, dll. Hal2 itu yg terkadang lebih berharga & sulit didapat dari sebuh gelar juara.

    Mungkin karena aku banci lomba & giveaway juga kali yaaa. Jadi klo ada lomba yg sekiranya bisa diikuti, lgsg aja ngikut, bodo amat hasilnya mau kalah atau menang, yg penting ikutan dulu 🙈 Lomba di tempat yg beda, ataupun di situ2 lagi, selama memenuhi kriteria, ya ikutan aja. Biarin jurinya bosen liat pesertanya aku mulu, wkwkwkwkwkwk. Siapa tau jurinya malah bisa liat progres kita, semisal : “Eh, pas kmrn dia hnya bikin gini doang, skrg udh bs gini. Coba tar liat nanti dia bisa bikin gmn ya? Klo bisa gini gini, lgsg tarik aja.” Terus karena 2x kalah, akhirnya ketiga kalinya g ikut lagi, padahal kemampuan kita udh bisa seperti yg diharapkan si juri, tapi akhirnya gagal lolos karena kitanya mundur duluan. Kan sayaaaang~~

    Jadi kesimpulannya~ Aku pribadi sih gak kapok klo ikutan lomba. Apalagi ikutan lombanya juga gak perlu bayar biaya pendaftaran, kita hanya perlu merelakan waktu untuk nulis nulis dan nulis. Jd gak rugi apapun. Karena klo gak ikut lomba, kita juga tetep luangkan waktu buat nulis 😆

    Reply
    • Ahaha aku balik ke tema sih. Itu paling penting. Kalau menarik, aku ikut, kalau enggak, males. bahkan jika seandaina penerbitnya bener2 ga pake setingan.
      Salut aku sama semangatmu sis ^^

      Reply
  6. Aku sering ikut lomba, kak. Tujuan utama sih supaya mengasah kreativitas aja, menang-kalah urusan lain. Lomba cerpen n puisi sering ikut, kalau novel baru sekali aja. Lomba cerpen, kalau rezeki sih ya menang.😀

    Tp karena kalah, jd dapat inspirasi buat merombak cerita dan revisi ini-itu. Ambil positifnya aja, sih. Sukses buat kita semua~

    Reply
  7. Kalau kecewa pasti ia mbak. Tapi balik lagi menang kalah urusan belakangan yang penting action dlu dan tidak membuang kesempatan yang ada. 😂😂😂

    Reply
  8. Aku awalnya ngerasa: agak aneh sih, di beberapa penerbit, yang menang itu-itu saja.

    Tapi ya, aku positif thingking bahwa pemenang tersebut memang memiliki kualitas bagus. naskah keren, dari segi si penulis juga keren (Attitude, juga memiliki fanbase).

    Kembali lagi kepada segala kelebihan dari penulis (naskahnya dan dan lain sebagainya), plus target dari penerbit. Yeah….

    Reply
    • Nah itu…. pasti ada alasan mereka2 aja yg selalu menang. Eheheheeh Jadi, tinggal kitanya aja yg milih, mau ikut apa kaga

      Reply
  9. Awalnya sih, sempet mikir kaya gitu. Jadi, ngerasa gak pd buat mengikutsertakan karya buat dilombakan. Kaya, dalam hati udah ketebak gitu siapa pemenangnya. Tetapi, balik lagi. Sekarang, aku percaya dengan tulisanku, positive thingking, dan bangga dengan bakat yang aku punya. Penerbit punya penilaiannya masing-masing dan disini aku mencoba untuk berusaha lebih kuat lagi.

    Reply
  10. Awalnya sih, sempet mikir kaya gitu. Jadi, ngerasa gak pd buat mengikutsertakan karya buat dilombakan. Kaya, dalam hati udah ketebak gitu siapa pemenangnya. Tetapi, balik lagi. Sekarang, aku percaya dengan tulisanku, positive thingking, dan bangga dengan bakat yang aku punya. Penerbit punya penilaiannya masing-masing dan disini aku mencoba untuk berusaha lebih kuat lagi. Semangat!! Banzaaii

    Reply
  11. Baru nemu website ini dikala mau ikut lomba, jadi makin yakin mau banyakin belajar aja dulu deh, terutama di puebi dan seputar dunia kepenulisannya. Yakin aja nanti pasti banyak lomba lain atau penerbit di luar sana yang mau nerima naskah saya 😀
    Oiya, webnya bener-bener informatif serta edukatif, mantaplah, makasih banget…

    Reply

Leave a Comment

error: Maaf, tidak diperkenankan klik kanan. Tautan akan terbuka langsung ke halaman baru.