Fanfic : The Third Master’s Sword

Asistensi Simopsis lengkap dan Mentoring Menulis Privat APRIL / MEI 2020

Untuk info langsung WHATSAPP 0812-12-707-424 atau klik DI SINI


Fanfic : The Third Master's Sword
Dapatkan Informasi Postingan TerbaruFollow Tips Menulis Novel Gratis on WordPress.com

Sword Master 2016

Rewrite Original Novel Pendekar Pedang Tuan Muda Ketiga San Shao Ye Di Jian The Third Master’s Sword 三少爺的劍 (Sān shàoyé de jiàn)

Karya: Khu Lung / Gu Long

Disadur Oleh: Tjan ID

Fanfic : The Third Master’s Sword

Pria muda itu berdiri tegak dalam balutan baju kumal yang agak berbau tak sedap. Rambut panjangnya digulung seadanya. Tutup kepala kain yang dikenakan tak banyak membantu mencegah helai rambut mencuat ke berbagai arah. Banyak noda arang di wajah, karena salah satu tugasnya di rumah bordil ini adalah memastikan tungku air mandi tetap hangat.

Wajahnya tenang tapi juga tak memancarkan api semangat. Namun, tak dapat disangkal, niatnya adalah menghalangi dua orang yang seenaknya hendak pergi setelah menikmati jasa rumah bordil serta menghabiskan hidangan yang disajikan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

A-chi berusaha tak memedulikan tatapan tidak percaya beberapa penghuni penginapan. Pria itu tak suka menerima pandangan kasihan juga simpati orang lain.

Mungkin memang ia tak bernyali seperti apa yang selalu didengungkan ayahanda padanya, ia juga barangkali sama sekali tidak berguna. Namun, sekali ini, ia ingin mendapatkan haknya.

Setidaknya semua orang di sini beranggapan jika dirinya tidak takut sakit.

Dua lelaki yang kini memainkan belatinya di depan A-chi tampak tidak senang. Beraninya ada orang berpenampilan dungu menghadang langkah mereka. Namun, akhirnya tawa sinis meremehkan terpancang di wajah garangnya.

BACA JUGA :  Drabble : Sayonara

“Kau ingin mati?”

A-chi bergeming dan menjawab dengan nada yang hampa. “Aku tak ingin mati. Tapi aku pun tak mau mati kelaparan. Kalau kalian pergi tanpa membayar, itu sama dengan memecahkan mangkuk nasiku.”

Tiba-tiba A-chi bisa merasakan satu tusukan di lengan kirinya. Hawa panas menjalar naik dari perutnya dan berputar langsung di sekujur tubuhnya. Perlahan, kedua tangannya mengepal erat sembari melihat rembesan darah keluar dari tempat lukanya menganga. Napasnya mulai memburu berusaha mengendalikan semua badai yang mengamuk dalam tubuhnya.

Kedua bajingan itu tak menyerah melihat A-chi seolah tak merasakan sakit. Wajah pria kumal itu tetap tenang seolah tak terjadi apa-apa. Tusukan kedua langsung bersarang di perut kanannya.

Lagi-lagi A-chi hanya berusaha untuk mengendalikan hawa panas yang mulai menguasai tubuhnya. Rasa sakit yang merajah tubuh memang nyata. Namun, A-chi tak berkedip barang sedikit. Ia hanya berdiri tegak sembari menerima dua tusukan berikutnya.

Melihat lawannya sama sekali tak terpengaruh pada tusukan belati, mau tak mau, kedua begundal itu pun ketakutan. Dengan segera mereka mengeluarkan apa yang seharusnya mereka bayarkan.

Saat keduanya lari tunggang langgang, barulah A-chi bisa merasakan hawa membakar di tubuhnya mereda, sehingga rasa sakit yang sedari tadi ditahannya mulai naik ke permukaan.

BACA JUGA :  Obsessive Loves - Epilog

Ketika beberapa penghuni penginapan berusaha untuk membantunya berjalan, A-chi tak mengacuhkannya.

Ia berjalan tertatih menahan sakit dari luka yang masih mengeluarkan darah. A-chi kembali ke kamar kumuhnya tanpa bicara sepatah kata pun. Ia akhirnya merebahkan diri di atas dipan yang keras dan dingin dengan peluh membanjiri tubuh.

Ia tak ingin dianggap sebagai pahlawan, maupun membiarkan orang lain menyaksikan penderitaannya.

Original : Ada sementara orang selamanya tak suka menerima pandangan kasihan atau simpati dari orang lain dan A-kit adalah manusia macam begini.

Sebab bukan saja ia tidak bernyali, diapun tak berguna.

>Hingga pada suatu hari, ketika ada dua orang laki-laki bersenjata yang ingin makan-minum secara gratis, semua orang baru mengetahui bahwa dia sesungguhnya mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Ia tidak takut sakit.

Ketika laki-laki bersenjata itu ingin pergi tanpa membayar setelah makan minum, tiba-tiba jalan pergi mereka telah dihadang oleh A-kit yang tak berguna.

Tentu saja laki-laki itu tertawa dingin sambil mengejek: “Hmm, rupanya kau ingin mampus?”

“Aku tidak ingin mampus, akupun tak ingin mati kelaparan. Bila kalian pergi sebelum membayar, sama pula artinya dengan memecahkan mangkuk nasiku…..”, demikian A-kit berkata.

BACA JUGA :  Fanfic : Cinta dan Dendam

Baru saja beberapa patah kata itu selesai diucapkan, dua buah bacokan telah bersarang di tubuhnya.

Tapi ia sama sekali tak bergerak, berkerut keningpun tidak. Ia cuma berdiri tegap sambil menerima tujuh – delapan buah bacokan golok tersebut. Menyaksikan hal tersebut, laki-laki itu memandangnya dengan terkejut, lalu tanpa mengucap sepatah katapun merogoh sakunya dan melunasi rekeningnya.

Ketika semua orang memandang ke arahnya dengan terkejut dan berusaha untuk membimbingnya, tanpa mengucap sepatah-katapun ia berlalu, kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di atas pembaringan yang dingin dan keras itu, sambil membiarkan peluh dingin membasahi tubuhnya dan menahan rasa sakit di tubuhnya.

Ia tidak ingin orang lain menganggapnya sebagai pahlawan, diapun tak ingin membiarkan orang lain menyaksikan penderitaannya.

Ia tidak ingin orang lain menganggapnya sebagai pahlawan, diapun tak ingin membiarkan orang lain menyaksikan penderitaannya

26 Januari 2018

Bukan ga sopan rewrite saduran novel orang, Shirei hanya greget karena nggak dapet feel A-chi / A-kit sama sekali. Padahal di film feel-nya dapet banget scene itu dan memorable banget.

Hanya sedikit disesuaikan sama acene film Sword Master 2016 koook eheheeheh

Cowok yang sebenernya bisa hajar lawannya tapi milh diem itu seksi. Tapi di sini A-chi emang masih agak linglung sih walakaakak

Apa bikin scene yg dipasar pr pas ceweknya dibakar? Kayaknya ucul. Haha

Fanfic Shirei yang lain :

Leave a Comment

error: Maaf, tidak diperkenankan klik kanan. Tautan akan terbuka langsung ke halaman baru.