5 Ciri Novelmu Membosankan dan Cara Ampuh Mengatasinya

Mau belajar menulis novel 2025-2026?
Buka mentoring menulis novel, baik umum, asistensi sinopsis, dan privat.
Langsung Whatsapp 081212707424 untuk info lebih lanjut.
BACA JUGA :  Cara Menulis Partikel Pun Lah Kah Tah Per

5 Ciri Novelmu Membosankan dan Cara Ampuh Mengatasinya

Pernah nggak dapat feedback kalau novel kita “agak datar” atau malah kita sendiri merasa jenuh saat menulisnya?

Jangan langsung sedih! Mengenali masalah adalah langkah pertama untuk membuat cerita yang lebih menarik. Berdasarkan pengalaman banyak penulis yang Shirei rangkum, ada beberapa pola yang sering bikin sebuah novel terasa membosankan.

Mari kita bahas 5 Ciri Novelmu Membosankan dan Cara Ampuh Mengatasinya. Soalnya, dengan tahu penyebab, itu bisa jadi alarm bahwa ceritamu butuh suntikan energi. Tenang, untuk setiap “penyakit”, Insyaallah ada “obat”-nya!

5 Ciri Novelmu Membosankan dan Cara Ampuh Mengatasinya

5 Ciri Novelmu Membosankan dan Cara Ampuh Mengatasinya

1. Taruhan (Stakes) yang Lemah atau Tidak Jelas

Tandanya: Pembaca bertanya-tanya, “Memangnya kenapa kalau si tokoh gagal?”.

Konflik terasa nggak penting karena konsekuensinya nggak personal atau terlalu abstrak.

Contoh yang kurang kuat:Magnus harus mendapatkan uang.” (Lalu?).
Contoh yang lebih baik: “Magnus harus mendapatkan uang demi bisa membeli mahar dan menikahi Ingrid agar perempuan yang dicintainya itu tidak akan dirundung lagi.”

Cara Mengatasi:

  • Personal is Powerful: Kaitkan kegagalan dengan hal yang paling disayangi karakter: keluarga, harga diri, mimpi terdalam, atau nyawa orang lain.

  • Naikkan Level Ancaman: Jika awalnya gagal berarti malu, naikkan jadi kehilangan segalanya. Buat pembaca ikut merasa takut kalau sampai si tokoh kalah. Ini adalah fondasi dari cerita yang menarik.

  • Kisahkan :  Jangan hanya bilang “ini penting”. Tunjukkan betapa pentingnya melalui tindakan dan pengorbanan si tokoh.

2. Plot yang Terlalu Bisa Ditebak dan Karakter Utama yang Pasif

Ini adalah dua ciri yang sering berjalan beriringan, jadi kita bahas sekaligus.

Tandanya:

  1. Plot Gampang Ketebak : Pembaca bisa menebak twist dan ending dari jauh-jauh hari. Tidak ada kejutan yang memuaskan. Sebenernya akhir ketebak itu boleh-boleh aja, selama perjalanan ke sana SERU dan nggak ketebak.

  2. Protagonis Pasif :  Tokoh utama hanya bereaksi terhadap kejadian di sekitarnya, seperti bola yang ditendang ke sana-sini. Dia jarang mengambil inisiatif yang mengubah arah alur cerita.

BACA JUGA :  7 Cara Mengoptimalkan Cuaca dalam Novel

Cara Mengatasi:

  • Berdayakan Tokoh Utamamu: Pastikan dialah yang mengambil keputusan besar yang mendorong plot. Kesalahan karena pilihannya sendiri lebih menarik daripada dia selalu jadi korban keadaan. Ini adalah inti dari membuat karakter yang menarik.

  • Balikkan Ekspektasi: Jika ada cliché (misal: “si baik selalu menang”), coba putar balik dengan logika ceritamu sendiri. Tapi ingat, kejutan harus masuk akal dalam dunia ceritamu, bukan sekadar asal nyeleneh.

  • Kurangi Backstory yang Ditumplek Sekaligus : Jangan berhenti bercerita hanya untuk menjelaskan latar belakang panjang lebar. Sebarlah informasi masa lalu secara perlahan melalui dialog atau kilas balik singkat, seperti yang kita bahas dalam tips menulis flashback yang efektif.

💡 Baca Poin Diatas dan Langsung “Ah, Iya, Nih!” Tenang aja, kamu nggak sendirian.

Mengenali masalah itu satu hal, tapi memperbaiki naskah yang sudah ada adalah tantangan yang berbeda. Seringkali, kita butuh pasangan mata dan masukan objektif untuk melihat akar masalah dan solusi terbaik.

Nah, kalau kamu pengin dibimbing langkah demi langkah untuk mengatasi kebosanan dalam naskah, mengembangkan karakter yang aktif, dan merancang plot yang menegangkan, Kelas Menulis Shireishou solusinya. Shirei punya dua pilihan:

✨ Kelas PREMIUM (Group): Belajar dalam komunitas kecil yang supportif. Saling memberi feedback dengan teman seperjuangan dibimbing Shirei. Cocok buat kamu yang butuh motivasi grup dan pertukaran ide.

✨ Kelas PRIVAT (1-on-1): Konsultasi intensif dan fokus penuh pada naskah & goals-mu. Setiap sesi dirancang khusus untuk mengatasi kebutuhan pribadimu. Cocok untuk penulis dengan deadline atau yang ingin pendalaman eksklusif.

Mau tanya-tanya dulu tentang kelasnya? Boleh banget!

Langsung chat aja ke WA: 081212707424. Yuk, ubah naskah yang ‘biasa aja’ jadi luar biasa!

BACA JUGA :  5 Tips Membuat Karakter Novel yang Relatable

3. Deskripsi yang Berlebihan (Overwriting) dan Pembukaan yang Lemah

Dua hal ini adalah pembunuh minat baca yang sangat efektif di bagian awal novel.

Tandanya:

  1. Overwriting: Halaman dipenuhi deskripsi panjang tentang pemandangan, penampilan karakter, atau perasaan yang membuat pembaca langsung melompati paragraf untuk mencari bagian yang terjadi. Shirei pernah bahas soal Tips Memilih Diksi dan Kosakata

  2. Pembukaan Lemah: Bab pertama tidak punya hook (penarik minat) yang kuat. Tidak ada aksi, misteri, atau pertanyaan yang membuat pembaca penasaran untuk lanjut ke halaman 2.

Cara Mengatasi:

  • “Less is More” untuk Deskripsi: Pilih satu atau dua detail paling vivid dan unik yang langsung menggambarkan suasana. Daripada mendeskripsikan seluruh isi kamar, pilih “bau kapur barus dan lukisan kapal yang frame-nya sudah kusam”.

  • Mulai dengan Aksi atau Pertanyaan: Hook pembaca di paragraf pertama. Bukan aksi fisik (lari, kejar-kejaran) saja, tapi juga aksi dramatis seperti dialog menegangkan atau sebuah pengakuan mengejutkan. Buat mereka bertanya, “Lho, kenapa bisa begitu?”.

  • Tunda Informasi Nggak Penting: Pembaca tidak perlu tahu semua latar belakang di bab 1. Menahan informasi justru menciptakan misteri. Seperti teknik time jump yang baik, loncat saja ke momen yang menarik.

4. Konflik yang Datar atau Tidak Berkembang

Pembaca kebingungan “ini masalahnya sebenernya apa?”

Tandanya: 

Cerita berjalan tanpa hambatan berarti atau konfliknya itu-itu saja dari awal sampai akhir. Kayak Doraemon, tapi versi tidak punya tujuan akhir.

Cara Mengatasi:

  • Gunakan Roda Konflik: Pastikan ada ketegangan dari tiga level:

    • Internal (diri sendiri: rasa bersalah, keraguan).

    • Antarpribadi (dengan orang lain: persaingan, pengkhianatan).

    • Eksternal (dengan dunia: bencana, sistem, antagonis).

  • Naikkan Levelnya (Escalate): Konflik harus seperti rollercoaster, naik turun. Setelah satu masalah teratasi, muncul masalah baru yang lebih besar. Buat tokoh utamanya tidak punya waktu untuk bernapas lega.

  • Konflik = Pilihan: Hadirkan situasi dimana tokoh utama harus memilih antara dua hal yang sama-sama berharganya. Ini langsung meningkatkan taruhan dan kedalaman karakter.

BACA JUGA :  Cara Menulis Partikel Pun Lah Kah Tah Per

5. Alur Cerita yang Terasa Tidak Tentu Arahnya

Pembaca kadang bingung mau dibawa ke mana cerita kita.

Tandanya: Cerita berjalan tanpa tujuan yang jelas. Pembaca (dan mungkin penulisnya) kebingungan: “Sebenarnya cerita ini mau ngapain?”. Ini sering terjadi karena kita sebagai penulis terlalu fokus pada scene-scene kecil tapi kehilangan tujuan besar cerita.

Cara Mengatasi:

  • Kembali ke Premis dan Logline: Tanyakan pada dirimu: “Dalam satu kalimat, cerita ini tentang apa?” Jawaban itu adalah kompasmu. Setiap bab harus mengantarkan cerita mendekati atau justru menjauhkan dari tujuan itu dengan sengaja.

  • Buat Peta Sederhana: Tidak harus outline kaku. Cukup tentukan 5-7 titik plot utama (insiden pemicu, titik balik, klimaks, resolusi) yang harus dicapai. Titik-titik itu adalah pulau-pulau yang harus disinggahi dalam pelayaran ceritamu.

  • Setiap Bab Harus Ada “Mengapa?”: Setiap akhir bab, pembaca harus memiliki satu alasan kuat untuk membalik halaman. Entah karena ada cliffhanger, sebuah rahasia terkuak, atau sebuah keputusan besar akan diambil.

Kebosanan bisa DIREVISI!

5 Ciri Novelmu Membosankan dan Cara Ampuh Mengatasinya bisa kita jadikan acuan sederhana merevisi novel

Mengenali ciri novelmu membosankan adalah skill berharga yang bisa menyelamatkan naskahmu. Ingat, hampir semua draft pertama punya kelemahan ini. Bedanya penulis yang karyanya akhirnya menarik adalah yang berani mengakui dan memperbaikinya.

Proses revisi inilah yang mengubah batu kasar menjadi berlian. Jadi, jangan takut jika melihat tanda-tanda ini di naskah kita. Itu artinya kitasudah selangkah lebih dekat untuk menciptakan cerita yang lebih kuat dan berkesan.

Gimana, teman-teman penulis? Dari 5 ciri di atas, mana nih yang paling sering kamu temuii? Yuk, bagi pengalaman dan tips pribadimu di kolom komentar! Sharing itu menyenangkan, loh!

Untuk mempelajari lebih dalam tentang struktur plot yang solid dan menghindari kebosanan, kamu bisa membaca panduan mendalam tentang three-act structure atau Save the Cat dari sumber-sumber terpercaya di internet.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, tidak diperkenankan klik kanan. Tautan akan terbuka langsung ke halaman baru.
Scroll to Top