Mau belajar menulis novel 2025-2026?
Buka mentoring menulis novel, baik umum, asistensi sinopsis, dan privat.
Langsung Whatsapp 081212707424 untuk info lebih lanjut.
3 Cara Menamatkan Novel 150 Bab Meski Gampang Bosan
Pernah nggak, sih, kita semangat banget saat memulai novel baru? Ide terasa mengalir deras, karakter sudah punya banyak rencana, bahkan beberapa adegan klimaks sudah terbayang jelas di kepala.
Namun, setelah belasan atau puluhan bab, semangat mulai turun. Kita bingung harus membawa cerita ke mana, mendadak punya ide novel baru, atau malah merasa bosan dengan naskah yang sedang dikerjakan.
Akhirnya, novel yang tadinya ingin segera kita tamatkan justru menjadi penghuni tetap folder dokumen. Sementara itu, kita sudah sibuk merancang cerita baru yang belum tentu nasibnya lebih baik. Ahahaha!
Sebenarnya, 3 Cara Menamatkan Novel 150 Bab Meski Gampang Bosan yang akan Shirei bagikan di sini berangkat dari pengalaman pribadi menyelesaikan novel panjang. Kita nggak harus mengandalkan semangat yang selalu stabil atau memaksakan diri mengikuti jadwal menulis yang kaku.
Ada tiga strategi yang bisa kita coba. Yuk, kita bahas satu per satu!
Kenapa Novel Sering Mandek di Tengah Jalan?
Memulai cerita biasanya terasa menyenangkan. Kita masih berkenalan dengan karakter, membangun dunia cerita, dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan plot.
Masalahnya, semakin panjang novel yang kita tulis, semakin banyak pula hal yang perlu kita kelola.
Beberapa penyebab novel berhenti di tengah jalan antara lain:
- Kehilangan arah cerita. Kita punya banyak ide, tetapi bingung menentukan kejadian mana yang harus ditulis berikutnya.
- Terlalu terpaku pada urutan bab. Kita ingin menulis adegan tertentu, tetapi harus melewati beberapa bagian yang sedang tidak menarik untuk dikerjakan. Akhirnya malas.
- Produktivitas naik-turun. Ada hari ketika kita bisa menulis banyak bab sekaligus, tetapi ada juga hari ketika satu paragraf saja terasa berat.
- Plot semakin melebar. Ide baru terus bermunculan sampai kita lupa tujuan utama cerita.
Tentu saja, setiap penulis punya penyebab kebuntuan yang berbeda. Karena itu, kita perlu menemukan sistem menulis yang bisa membantu menjaga arah cerita sekaligus memberi ruang untuk perubahan.
3 Cara Menamatkan Novel Panjang agar Tidak Mandek
1. Buat Milestone Cerita, Bukan Outline yang Terlalu Kaku
Salah satu cara menamatkan novel panjang adalah menentukan milestone atau titik pencapaian penting dalam cerita.
Apa bedanya milestone dengan outline biasa?
Outline yang sangat mendetail bisa berisi urutan kejadian dari bab pertama sampai bab terakhir. Sementara itu, milestone hanya mencatat peristiwa penting yang harus dicapai oleh cerita kita.
Misalnya, kita sedang menulis novel romance sepanjang 150 bab.
Kita bisa membuat milestone seperti ini:
- Bab 1–10: Tokoh utama bertemu dan mulai mengenal calon pasangan.
- Bab 20: Rahasia besar mulai terungkap.
- Bab 40: Hubungan mereka mengalami konflik serius.
- Bab 70: Tokoh utama harus mengambil keputusan penting.
- Bab 100: Konflik utama mencapai titik kritis.
- Bab 130: Rahasia terakhir terungkap.
- Bab 150: Cerita mencapai penyelesaian.
Angka di atas hanya contoh. Kita bebas menyesuaikannya dengan kebutuhan cerita.
Dengan adanya milestone, kita punya gambaran tentang arah perjalanan karakter tanpa harus menentukan setiap adegan sejak awal.
Misalnya, kita tahu bahwa pada bab 40 hubungan kedua tokoh harus mengalami konflik besar. Namun, bagaimana cara mereka sampai ke sana masih bisa kita eksplorasi selama proses menulis. Jadi, ketika tiba-tiba mendapat ide baru, kita bisa mempertimbangkan apakah ide tersebut membantu cerita mencapai milestone berikutnya atau justru membuat alurnya semakin jauh dari tujuan.
Kalau ingin mempelajari penyusunan plot lebih lanjut, kita juga bisa membaca artikel Shirei tentang Tips Menyusun Plot, Alur, dan Kerangka.
Untuk referensi tambahan, Grammarly juga membahas berbagai cara membuat outline novel, termasuk menyusun momen-momen penting dan menjaga agar kerangka tetap fleksibel. Kita bisa membacanya di How to Outline a Novel.

2. Gunakan Sistem Tabungan Bab Saat Sedang Produktif
Pernah mengalami hari ketika ide mengalir deras dan kita sanggup menulis beberapa bab sekaligus?
Nah, jangan sia-siakan kesempatan tersebut!
Shirei menggunakan sistem yang disebut Tabungan Bab.
Prinsipnya sederhana: ketika sedang produktif, kita menulis lebih banyak bab daripada kebutuhan jadwal publikasi, kemudian menyimpan sisanya sebagai stok.
Misalnya, kita punya jadwal update tiga kali seminggu. Namun, pada hari tertentu, ide sedang lancar dan kita berhasil menulis lima bab sekaligus. Daripada langsung menerbitkan kelimanya, kita bisa menyimpan beberapa bab sebagai cadangan.
Nantinya, stok tersebut bisa digunakan ketika:
- Kita sedang tidak punya banyak waktu untuk menulis.
- Kondisi fisik sedang kurang mendukung.
- Mood menulis sedang turun.
- Ada urusan lain yang membuat jadwal menulis berantakan.
- Kita membutuhkan waktu untuk mengerjakan proyek lain.
Dengan begitu, jadwal publikasi tidak selalu bergantung pada produktivitas kita setiap hari.
Sistem Tabungan Bab juga membantu mengurangi tekanan karena kita tidak harus menghasilkan tulisan baru setiap kali jadwal update tiba.
Namun, jangan lupa untuk tetap mengecek stok bab. Sesekali, kita perlu menghitung berapa banyak bab yang tersimpan dan berapa banyak yang sudah digunakan.
Tujuannya supaya tabungan tidak habis tanpa disadari. Hehehe.
3. Tentukan Gambaran Ending Sejak Awal
Salah satu penyebab novel panjang semakin sulit ditamatkan adalah plot yang terus melebar.
Awalnya kita hanya ingin menulis cerita tentang hubungan dua karakter. Di tengah jalan, muncul konflik keluarga, rahasia masa lalu, karakter antagonis baru, subplot tambahan, bahkan ide cerita lain yang rasanya sayang kalau tidak dimasukkan. Semuanya menarik, tetapi kita perlu bertanya: sebenarnya, cerita ini mau berakhir di mana?
Karena itu, Shirei menyarankan agar kita punya gambaran ending sejak awal.
Tidak harus berupa outline final yang sangat mendetail. Cukup tentukan beberapa hal penting:
- Apa tujuan akhir tokoh utama?
- Konflik utama apa yang harus diselesaikan?
- Bagaimana hubungan antartokoh akan berakhir?
- Perubahan apa yang ingin kita tunjukkan pada karakter?
Gambaran ending ini berfungsi seperti kompas. Kita tetap boleh menambahkan subplot, karakter baru, atau konflik tambahan, tetapi semuanya perlu dipertimbangkan berdasarkan arah cerita.
Setiap kali muncul ide baru, coba tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah ide ini membantu cerita menuju ending, atau justru membuat kita semakin jauh dari tujuan awal?”
Kalau ide tersebut memang memperkaya cerita, silakan dikembangkan. Namun, kalau terlalu jauh dari konflik utama, mungkin lebih baik kita simpan untuk novel berikutnya.
Kalau masih bingung menentukan akhir cerita, kita bisa membaca artikel Shirei tentang 6 Jenis Ending Novel yang Bikin Pembaca Susah Move On.
Dengan memiliki tujuan akhir, kita punya alasan yang lebih jelas untuk terus melanjutkan cerita sampai selesai.
Bagaimana Cara Mulai Menerapkan Ketiga Metode Ini?
Tidak perlu langsung membongkar seluruh naskah dan membuat sistem baru yang rumit.
Kita bisa mulai dari tiga langkah sederhana:
Pertama, buka kembali outline atau catatan cerita. Tentukan beberapa milestone penting dari awal sampai akhir.
Kedua, perhatikan pola produktivitas kita. Ketika sedang punya banyak ide dan tenaga untuk menulis, manfaatkan kesempatan tersebut untuk membuat stok bab.
Ketiga, tuliskan gambaran ending yang ingin dicapai. Tidak perlu sempurna. Kita hanya membutuhkan arah supaya cerita tidak terus melebar.
Kalau saat ini novel kita sudah terlanjur mandek, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Coba cari tahu dulu bagian mana yang membuat kita kesulitan melanjutkan cerita.
Shirei juga pernah membahas beberapa pendekatan lain dalam artikel 7 Cara Melanjutkan Tulisan yang Macet Sampai Tamat. Siapa tahu ada strategi tambahan yang cocok untuk kondisi naskah kita.
Menamatkan Novel Tidak Harus Mengandalkan Semangat Setiap Hari
Menyelesaikan novel panjang memang membutuhkan proses. Ada hari ketika kita bisa menulis banyak bab, tetapi ada juga hari ketika membuka dokumen saja sudah terasa berat.
Karena itu, kita tidak harus mengandalkan semangat setiap hari. Kita bisa membangun sistem yang membantu proses menulis tetap berjalan meskipun produktivitas sedang naik-turun.
Milestone membantu kita menjaga arah cerita. Tabungan Bab membantu menyediakan stok tulisan ketika sedang tidak produktif. Sementara itu, gambaran ending membantu kita mengingat tujuan akhir novel.
Ketiganya adalah metode yang Shirei gunakan dan bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Ingat, draf yang belum sempurna masih bisa kita revisi. Namun, kita perlu menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum bisa melakukan banyak perbaikan.
Jadi, yuk, buka kembali naskah yang sudah lama tertunda. Kita lanjutkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa menuliskan kata TAMAT!
Nah, itulah tadi 3 Cara Menamatkan Novel Panjang agar Tidak Mandek.
Sekarang Shirei mau tanya, nih.
Novel terpanjang yang pernah kita tulis sudah sampai berapa bab? Apakah sudah tamat, masih berjalan, atau justru sedang tertidur manis di folder dokumen?
Ceritakan di kolom komentar, ya! Shirei senang membaca perjalanan menulis kita.
Kalau punya pertanyaan tentang outline, pengembangan plot, karakter, atau kesulitan menyelesaikan naskah, kita juga bisa berdiskusi di sana.
Butuh Pendampingan untuk Menulis Novel Sampai Tamat?
Terkadang, membaca tips menulis saja belum cukup. Kita mungkin membutuhkan teman diskusi untuk memeriksa premis, merapikan plot, mengembangkan konflik, atau mencari tahu kenapa sebuah naskah terus-menerus mandek di tengah jalan.
Kalau membutuhkan pendampingan yang lebih terarah, Shirei membuka Les dan Mentoring Kepenulisan untuk membantu kita mengembangkan kemampuan menulis novel.
Materi bisa disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari pengembangan ide dan premis, penyusunan plot, desain karakter, konflik dan klimaks, hingga pembahasan naskah.
Yuk, belajar menulis bersama Shirei!
KLIK DI SINI UNTUK INFO LES DAN MENTORING KEPENULISAN SHIREI
Sampai jumpa di artikel berikutnya. Selamat menulis dan semoga naskah kita segera tamat!
Video Version







